Senin, 20 Februari 2012

Mengenang Tim Ekspedisi Everest Indonesia


26 APRIL 1997 adalah hari yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Pada hari itu, putra - putra terbaik bangsa ini berhasil memancangkan Sang Saka Merah Putih di puncak Everest ( 8.848 m dpl. ), tempat paling tinggi di dunia dan sering dianggap sebagai simbol ketangguhan suatu bangsa. Di Asia Tenggara, dan di antara negara-negara yang berada di lintang tropika, Indonesia adalah negara pertama yang mampu melakukannya. Bukankah itu sebuah kebanggaan nasional?


Pada 25 Oktober 2002, saya menghadiri presentasi tentang ekspedisi itu di PUSDIKPASSUS Batujajar, Bandung. Misirin―satu dari dua anggota Tim Indonesia yang berhasil mencapai puncak Everest―hadir di sana dan mengisahkan perjalanan mahaberat itu kepada kami semua. Di akhir presentasi, Ia mengeluarkan lima buah buku berjudul “Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan.” Saya sangat beruntung karena―dengan menjawab sebuah pertanyaan―bisa mendapatkan satu di antaranya. Dari buku itu saya mengetahui bagaimana sikap patriotik para pendaki gunung Indonesia yang rela mati demi mengangkat nama baik bangsa, meskipun beberapa tahun kemudian, perjuangan dan nama mereka ( mungkin ) terlupakan atau sama sekali belum pernah kita dengar!

Tim Ekspedisi Everest Indonesia yang merupakan gabungan dari pendaki - pendaki sipil ( Wanadri, Mapala UI, FPTI, Rakata ) dan militer ( KOPASSUS )―yang sebagian besar belum pernah melihat dan menyentuh salju―berangkat menuju Nepal pada akhir Desember 1996. Setelah beberapa hari beristirahat di Kathmandu, mereka langsung mengikuti latihan yang sekaligus merupakan seleksi untuk mereka yang akan diikutsertakan dalam pendakian Everest pada bulan Aprill 1997. Seleksi pertama dilakukan di Paldor Peak ( 5. 928 m dpl. ), dilanjutkan dengan seleksi kedua di Island Peak ( 6.189 m dpl. ). Di bawah bimbingan pelatih, Anatoli Boukreev ( 39, Rusia ), Vladimir Baskirov ( 44, Rusia ), Evgenie Vinogradsky ( 52, Rusia ), pendaki - pendaki itu belajar mengenal gunung es dan mempelajari teknik mendakinya. Kegembiraan saat pertama kali melihat hamparan es dan menginjak butir - butir salju, konon mereka ekspresikan dengan berlari - lari seperti anak - anak, duduk di atas bongkahan es, atau saling melempar dengan bubuk salju sambil berteriak - teriak.

Sangat pantas jika banyak pendaki asing yang mencibir, atau bahkan melontarkan pertanyaan sinis: benarkah orang - orang seperti ini akan mendaki Everest?  Namun, pendaki gunung Indonesia adalah orang - orang yang sangat menyadari di mana titik kelemahan mereka. Kesadaran akan keterbatasan fisik, waktu persiapan yang sangat singkat ( enam bulan ), dan pengalaman yang sangat miskin, melahirkan keputusan untuk memakai pelatih terbaik, Sherpa ( pemandu yang terdiri dari pembuka jalur, pengangkut barang, dan pemasak ) terbaik, dan peralatan pendakian terbaik di dunia. Kesadaran akan titik lemah itu ternyata dimiliki pula oleh Anatoli Boukreev yang dipilih sebagai pelatih.

Selain memahami pendaki macam apa yang akan dibimbingnya, ia pun menyadari kelemahan dirinya sendiri. Boukreev adalah pemandu gunung yang sangat handal, namun ia merasa kurang pandai dalam perkara manajemen pendakian dan kurang luwes dalam berhubungan dengan anggota tim. Konon, Ia mengakui hal itu dengan mengatakan “I wanted…..some balanche for my rather difficult personality.” Itulah yang membuatnya meminta didampingi oleh pelatih lain yang dianggap cakap.


Kesadaran - kesadaran itu, baik dalam diri pendaki Indonesia maupun pelatihnya, ternyata mampu melahirkan keputusan - keputusan dan strategi tepat yang mengantarkan mereka meraih puncak.  Waktu yang sedikit itu terus mereka gunakan untuk berlatih, mendongkrak kualitas fisik dan teknik dengan dilandasi semangat yang terus berkobar. Mereka tahu bahwa sebuah tim ekspedisi Everest negara lain, yang terdiri dari pendaki - pendaki profesional, biasanya memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk berlatih, seperti halnya Malaysia yang pada saat itu juga tengah mempersiapkan pendakiannya.

Tercatatnya Malaysia sebagai salah satu tim ekspedisi di musim pendakian 1997 kian memperbesar tekad.  Dalam ekspedisi ini, Tim Indonesia dibagi menjadi dua: tim yang mendaki dari jalur selatan ( Nepal ), dan tim yang mendaki dari jalur utara ( Tibet ). Tim selatan terdiri dari 10 pendaki, 2 pendukung, 3 pelatih dan 20 Sherpa. Sedangkan tim utara terdiri dari 6 pendaki, 2 pendukung, 1 pelatih ( Riszhard Pawlowsky ( 44 ), Polandia ) dan 15 Sherpa. Dengan dua tim dari dua jalur yang berbeda, peluang keberhasilan Indonesia menjadi lebih terbuka. Mengapa? Hal yang paling ditakuti pendaki - pendaki Everest adalah badai dahsyat yang dikenal sebagai Jet Stream Wind, dinamakan demikian karena suaranya konon menderu - deru bagai raungan pesawat jet dengan kecepatan mencapai 100 mil per jam.

Badai ini akan menyebabkan suhu udara berubah drastis dan memicu terjadinya longsoran salju ( avalanche ). Sejarah mencatat, jika jalur selatan dihantam badai, maka jalur utara biasanya aman. Demikian pula sebaliknya. Maka Tim Indonesia berharap bisa mencuri sukses di antara dua jalur itu: kelak kita tahu bahwa badai dahsyat menghentikan pendakian Tim Utara―yang dimotori Gunawan Ahmad “Ogun” dari Wanadri )―pada ketinggian 248 meter di bawah puncak Everest. Tim Selatan menginjakkan kaki di Base Camp Everest ( 5.300 m ) pada 18 Maret 1997, dan segera memulai masa aklimatisasi, yaitu penyesuaian diri dengan suhu udara yang sangat ekstrim.  

Base Camp Everest masih kosong, tim - tim negara lain belum ada karena waktu favorit pendakian memang belum tiba. Dengan demikian, Tim Indonesia menjadi tim pertama yang mendaki Everest di musim pendakian 1997, ketika salju masih sangat tebal karena musim dingin baru saja akan berakhir. Selama dua minggu, mereka melakukan pendakian secara bertahap ke Camp I ( 6.100 m ), Camp II ( 6.500 m ), Camp III ( 7.300 m ) dan Camp IV ( 7.980 m ). Semakin ke atas, pendakian semakin berat karena kadar oksigen semakin tipis, sedangkan nafsu makan hampir hilang sama sekali.

Tanpa proses aklimatisasi yang memadai, para pendaki bisa cepat terkena penyakit ketinggian. Ada dua jenis penyakit ketinggian yang sangat berbahaya, yaitu High Altitude Pulmonary Edema / HAPE ( pembengkakan paru - paru akibat ketinggian ) dan High Altitude Cerebral Edema / HACE ( pembengkakan otak akibat ketinggian ). Selain itu, ada pula resiko gigitan salju ( frosbite ) yang bisa memaksa seorang pendaki kehilangan jari - jari kaki dan tangannya. Setelah hampir mencapai Camp IV, dan masa aklimatisasi dianggap cukup, Tim Selatan turun ke ketinggian 3. 867 meter untuk melakukan pemulihan ( recovery ) selama dua minggu, sebelum memulai summit attack ( pendakian ke puncak ) mulai 22 April 1997.


Berdasarkan pemantauan dan ranking yang dibuatnya selama masa aklimatisasi, ketiga pelatih itu memutuskan bahwa hanya tiga orang yang akan mendapat kesempatan mendaki ke puncak Everest, dan ketiganya merupakan pendaki militer. Dengan demikian, setiap pendaki langsung didampingi oleh seorang pelatih. Ini dianggap penting mengingat para pendaki Indonesia bukanlah pendaki gunung profesional. Keputusan ini tentu saja sangat mengecewakan para pendaki sipil, terutama mereka yang masih merasa sanggup, seperti Galih Donikara ( Wanadri ) dan Ripto Mulyono ( Mapala UI ). Di saat - saat seperti inilah kekuatan sebuah tim ekspedisi diuji.

Obsesi individu yang menggebu - gebu harus ditekan dan direlakan demi keberhasilan tim. Siapa yang tak ingin mencapai puncak setelah perjuangan yang begitu berat dan puncak sudah sangat dekat? Tetapi, dengan besar hati mereka bisa menerima kenyataa ini. Ripto Mulyono mengatakan bahwa “secara pribadi saya kecewa. Tapi saya menekan kekecewaan itu dengan berpikir lebih luas, bahwa ini demi merah putih!” Ketika kita bergulung dalam selimut hangat dan kasur empuk pada dinihari 26 April 1997, Lettu Iwan Setiawan ( 29 th, Komandan Tim Selatan ), Sertu Misirin ( 31 ) dan Pratu Asmujiono ( 25 ), didampingi oleh Anatoli Boukreev, Vladimir Baskirov, Evgenie Vinogradsky, Appa Sherpa dan Dawa Nuru Sherpa, tertatih-tatih meninggalkan Camp IV di South Col ( 7.980 m ). Mereka mulai memasuki ketinggian 8.000 meter yang dikenal sebagai zona kematian ( dead zone ). Langkah mereka menjadi sangat berat karena salju yang tebal membenam setinggi lutut, suhu udara pagi itu sekitar -300 Celcius.

Mereka telah menggunakan tabung oksigen agar tetap bisa bernafas di ketinggian itu, masing - masing membawa dua tabung saat merambah lereng bersalju dengan kemiringan 75 - 80 derajat. Sebagai tim pertama yang mendaki pada musim itu, tim merekalah yang harus memasang lintasan tali menuju puncak, karena lintasan pendakian musim sebelumnya sudah rapuh dan terkubur salju. Dengan kondisi fisik yang kian menghawatirkan, perjalanan mereka menjadi semakin lamban. Ketiga pendaki Indonesia itu diperkirakan mencapai puncak pada pukul 15.00: waktu yang sangat terlambat, dan kemungkinan tersapu badai pada perjalanan turun menjadi sangat besar!

Batas toleransi pencapaian puncak Everest adalah pukul 13.00. Puncak Everest sendiri bukanlah tempat yang nyaman bagi seorang manusia. Dalam buku Into Thin Air, Jon Krakauer memberi gambaran dengan menulis bahwa “pada ketinggian troposfer 29.028 kaki, sangat sedikit oksigen yang bisa masuk ke dalam otakku sehingga kapasitas mentalku sama dengan kapasitas mental seorang anak yang terbelakang. Dalam kondisi seperti itu aku hampir tidak bisa merasakan apa - apa kecuali rasa dingin dan lapar.”Pada pukul 15.30, 26 April 1997, Pratu Asmujiono meneriakkan kalimat takbir ( Allahuakbar ) sambil menangis dan memeluk tripod yang merupakan penanda puncak Everest ( 8.848 m ).

Ia kemudian mengibarkan Merah Putih dan menyanyikan lagu Padamu Negeri, mengabaikan perintah Anatoli Boukreev yang menyuruhnya segera turun. Ketika Boukreev mangambil potret, Asmujiono membuka masker oksigennya: dalam gambar ia terlihat berdiri tegak di samping tripod Everest dengan memakai “baret merah,” kedua tangannya memegang bendera Indonesia. Pendakian Misirin terhenti karena ia terjatuh dan pingsan beberapa meter sebelum tripod, sedangkan Iwan Setiawan terhenti beberapa meter di bawah Misirin. Meskipun tidak sempat menyentuh tripod, Misirin dianggap telah mencapai puncak dan berhak memperoleh sertifikat sebagai summiter (orang yang berhasil mencapai puncak) Everest.

Bagi Warga Indonesia dan Asia Tenggara, Asmujiono dan Misirin merupakan orang pertama dan kedua yang bisa mencapai tempat itu. Dan dalam daftar summiter Everest, nama mereka tercatat pada urutan ke - 662 dan 663. Terlambat sampai di puncak berarti harus siap menghadapi badai dalam perjalanan turun. Dan jika badai itu datang, jarang ada yang bisa selamat dari amukannya. Kenyataan inilah yang dihadapi tiga putra terbaik bangsa Indonesia yang belum selesai berjuang saat itu.

Setahun sebelumnya, 10 Mei 1996, amukan Jet Stream Wind menewaskan beberapa pendaki yang tergabung dalam Adventure Consultant Guided Expedition dan Mountain Madness Guided Expedition dalam perjalanan turun yang terlambat. Kedua pemimpin dari dua tim ekspedisi itu―Rob Hall ( Selandia Baru ) dan Scott Fischer ( USA )―tewas bersama beberapa anggota timnya: Andy Harris ( Selandia Baru ), Doug Hansen ( USA ), Yasuko Namba ( Jepang ).

Pada musim itu, ada pula beberapa pendaki dari tim lain yang meninggal sebelum dan sesudah 10 Mei. Karena banyaknya korban tersebut ( 12 orang ), musim pendakian 1996 sering disebut sebagai “Everest 1996 Dissaster.” Tragedi tersebut tentu saja masih membayangi Anatoli Boukreev yang kini harus bertanggungjawab atas keselamatan Tim Indonesia, karena saat tragedi itu terjadi, ia berperan sebagai pemandu dalam Tim Mountain Madness. Kala itu Boukreev nekad menembus badai dan berhasil menyelamatkan beberapa nyawa, tindakannya kelak dikenal orang sebagai “the amazing rescue.”Untungnya strategi pendakian Tim Indonesia telah disusun dengan mempertimbangkan hal paling buruk sekalipun. Berbeda dengan tim ekspedisi lain―yang akan langsung turun ke Camp IV setelah mencapai puncak―Tim Indonesia menyiapkan Emergency Camp di ketinggian 8.500 m.

Sejak awal memang telah diperkirakan bahwa mereka tidak akan mampu turun langsung ke Camp IV. Meskipun memang tepat, keputusan untuk bermalam di ketinggian 8.500 meter merupakan hal baru yang dianggap gila dan tidak masuk akal.  Di Emergency Camp yang hanya terdiri dari sebuah tenda berukuran 1×1,25 meter, tiga pendaki Indonesia dan tiga pelatihnya berdesakan melewati malam yang sangat mencekam. Semua Sherpa sudah kembali ke Camp IV, karena tidak mau menanggung risiko untuk bermalam di zona kematian.

Dua tabung oksigen yang ada di sana, yang sudah habis sebelum pagi tiba, digunakan bergiliran oleh Asmujiono, Misirin dan Iwan Setiawan. Melihat kondisi mereka yang demikian menderita, para pelatih tak lagi menggunakannya. Atas kehendak Tuhan, mereka mampu bertahan hidup di malam yang hampir mustahil dilalui itu. Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan turun menuju Base Camp, dan tiba di sana pada 30 April 1997. Padahal saat mereka bermalam di Emergency Camp, pendaki - pendaki lain telah menganggap mereka tidak akan pernah kembali lagi.

Di Base Camp, putra - putra Indonesia yang mengawali pendakian di tengah kesangsian dan cibiran itu disambut meriah bagai pahlawan yang baru saja memenangkan pertempuran. Beberapa surat kabar terkenal di Nepal―seperti juga koran - koran di Indonesia―beramai - ramai memberitakan keberhasilan mereka. Sebuah mitos bahwa “orang - orang tropik yang miskin pengalaman mendaki gunung es tak mungkin mencapai puncak Everest” telah runtuh di tangan Indonesia! Keberhasilan itu sangat pantas dikenang! Dari mereka kita bisa belajar tentang betapa pentingnya semangat, kerja keras, pengorbanan, ketabahan, keyakinan, mawas diri, profesionalisme, kebersamaan serta keikhlasan dalam mewujudkan suatu tujuan.


Dan di atas semua itu, kita harus menyadari bahwa Tuhan telah mengatur segalanya, kita hanya bisa berserah diri dan berdoa. Nilai - nilai itulah yang diperlukan bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan dan mendaki ke puncak kejayaan. Keberhasilan pendakian Everest di Himalaya harus menjadi motivator bagi keberhasilan pendakian “Everest-Everest” lain yang menjulang tinggi dalam kehidupan kita. Ada baiknya jika mengingat dan merenungkan kembali apa yang pernah dikatakan Walter Bonatti ( Italia ): “aku percaya bahwa alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar kita. Karena itu aku percaya bahwa gunung dengan segala keindahannya serta hukum - hukumnya merupakan sekolah yang terbaik bagi manusia.” 









Hargai Hidup Dengan Berpetualang


Ada satu ujar - ujar, bahwa mereka yang gemar berpetualang di alam bebas adalah orang - orang yang mencintai kematian. Benarkah? Sebenarnya idiom salah, karena berpetualang itulah yang menghargai hidup. Ada satu keinginan untuk memberi arti dan nilai dalam hidup. Dan rasanya benar jika seorang filsafat mengatakan: "Di tengah hutan dan di alam bebas, aku merasa menjadi manusia kembali"


Petualang yang tewas di gunung ( kegiatan alam bebas lainnya ), bukanlah orang yang mencintai kematian. Kematiannya itu sebenarnya tak berbeda dengan kematian orang lain yang tertabrak mobil di jalan raya atau terbunuh perampok. "Yang pasti, Mereka tewas justru dalam usahanya untuk menghargai kehidupan ini. ” Hidup itu harus lebih dari sekedarnya ” tulis Budi Laksmono yang tewas digulung jeram Sungai Alas, Aceh, 1985.

Bagi orang awam, kiprah petualang seperti Pendaki Gunung selalu mengundang pertanyaan klise : mau apa sih ke sana ?. Pertanyaan sederhana, tetapi sering membuat bingung yang ditanya, atau bahkan mengundang rasa kesal. George F Mallory, pendaki gunung terkenal asal Inggris, mungkin cuma kesal saja ketika menjawab : because it is there, karena gunung ada!, Mallory bersama seorang temannya, menghilang di Pucuk Everest pada tahun 1924.

Rata Penuh Beragam jawaban boleh muncul, Soe Hoek Gie , salah seorang pendiri Mapala UI, menulisnya dalam sebuah puisi : " Aku Cinta Padamu Pangrango, Karena Aku cinta Keberanian Hidup ". Bagi pemuda ini, keberanian hidup itu harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Soe Hok Gie tewas bersama seorang temannya Idhan Lubis, tercekik gas beracun dilereng kerucut Mahameru, Gunung Semeru, 16 Desember 1969, dipelukkan seorang sahabatnya, Herman O Lantang.

Pemuda aktif yang sehari - hari terlibat dalam soal - soal pelik di dunia politik ini mungkin menganggap petualangan di gunung sebagai arena untuk melatih keberanian menghadapi hidup. Mungkin pula sebagai pelariannya dari dunia yang digelutinya di kota. Herman O Lantang yakin bahwa sahabatnya itu meninggal dengan senyum dibibir. " Dia meninggal ditengah sahabat - sahabatnya di alam bebas, jauh dari intrik politik yang kotor " ujarnya.

Motivasi melakukan kegiatan di alam bebas khususnya Mendaki Gunung memang bermacam macam. Manusia mempunyai kebutuhan psikologis seperti halnya kebutuhan - kebutuhan lainnya: Kebutuhan akan pengalaman baru, Kebutuhan untuk berprestasi, dan Kebutuhan untuk diakui oleh masyarakat dan bangsanya. Mendaki gunung adalah salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan - kebutuhan itu, disadari atau tidak. Semua ini sah, tentu saja.

Sebenarnya yang paling mendasar dari semua motivasi itu adalah rasa ingin tahu yang menjadi jiwa setiap manusia. Rasa ingin tahu adalah dasar kegiatan mendaki gunung dan petualangan lainnya. Keingin - tahuannya setara dengan rasa ingin tahu seorang bocah, dan inilah yang mendorong keberanian dan ketabahan untuk menghadapi tantangan alam. Tetapi apakah sebenarnya keberanian dan ketabahan itu bagi Pendaki Gunung ?

Peter Boardman, Pendaki Gunung asal Inggris, menjadi jenuh dengan pujian - pujian yang bertubi - tubi, setelah keberhasilannya mencapai Puncak Everest melalui Dinding Barat Daya yang sulit di tahun 1975. Peter Boardman yang kemudian hilang di Punggung Timur Laut Everest tahun 1982 menulis arti Keberanian dan Ketabahan baginya.


" Dibutuhkan lebih banyak keberanian untuk menghadapi kehidupan sehari - hari yang sebenarnya lebih kejam daripada bahaya pendakian yang nyata. Ketabahan dibutuhkan lebih banyak untuk bekerja di kota daripada mendaki gunung yang tinggi."

Keberanian dan Ketabahan yang dibutuhkan ketika mendaki gunung cuma sebagian kecil saja dari hidup kita. Bahaya yang mengancam jauh lebih banyak ada didunia peradaban, di perkotaan ketimbang digunung, hutan, dalam goa, dan dimana saja di alam terbuka. Di dunia peradaban modern, di kota, begitu banyak masalah yang membutuhkan Keberanian dan Ketabahan untuk menyelesaikannya. Di gunung, masalah yang kita hadapi hanya satu : "Bagaimana mencapai puncaknya, lalu turun kembali dengan selamat."


George F. Mallory, Soe Hoek Gie , Idhan Dhanvantari Lubis , Norman Edwin , Didiek Samsu, Peter Boardman, Budi Laksmono, dan banyak lagi petualang dan penjelajah alam bebas lainnya yang gugur dalam misinya, Mereka semua adalah yang sangat menghargai KEHIDUPAN !

" HIDUP ADALAH SOAL KEBERANIAN MENGHADAPI YANG TANDA TANYA, TANPA KITA MENAWAR. TERIMA DAN HADAPILAH " ( Soe Hoek Gie )

Chris Bonington Sang Pemburu Puncak


Chris Bonington, lahir di Hamstead London, Inggris pada tanggal 6 Agustus 1934 pada awalnya adalah lulusan Royal Military Academy Sandhurst dan bekerja di Royal Tank Regiment pada tahun 1956. Dia ditugaskan di Jerman Utara selama tiga tahun dan kemudian menjadi instruktur Mountaineering di Army Outward Bound School selama dua tahun.


Disini ia sukses mendaki Aiguille du Dru via pilar Barat Daya dan tercatat sebagai orang Inggris pertama yang melewati rute tersebut pada 1958. Tiga tahun kemudian, ia bersama Don Whillans, Ian Clough dan Jan Dlugosz melakukan pendakian pertama Pilar Tengah Freney di sisi selatan Mont Blanc. Pada masa itu Pilar tersebut merupakan salah satu rute tersulit yang ada di pegunungan Alpen. Setahun kemudian Ia juga mendaki Eiger via sisi utara ( North Face ) dan tercatat sebagai pendakian pertama yang dilakukan oleh orang Inggris pada sisi itu.

Kecintaannya pada gunung telah membuatnya "membelot" dari ketentaraan pada 1961 dan bergabung dengan perusahaan Unilever pada Job Management Trainee untuk membiayai hidupnya. Tapi profesi ini hanya dijalaninya selama sembilan bulan sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengkombinasikan karir konvensionalnya dengan kecintaannya terhadap gunung. Ia pun memilih untuk menjadi pendaki gunung profesional dan disuarakannya pada buku pertamanya berjudul “I Chose to Climb” ( 1966 ).

Dalam karir pendakian gunungnya, Bonington memang dikenal sebagai "pemburu" puncak atau rute - rute perawan yang sulit. Ini dapat dilihat dari daftar panjang pencapaiannya di berbagai belahan bumi. Ia tercatat sebagai orang pertama yang mendaki :

Tower Tengah Paine, Patagonia ( bersama Don Whillans, 1961 ),
Old Man of Hoy ( dengan Patey and Bailey, 1966 ),
Brammah ( 6411 m )
Kashmir ( dengan Estcourt, 1973 ),
Changabang ( 6864 )
Garhwal Himalaya ( dengan Don Whillans, Doug Scott and Dougal Haston, 1974 ),
Ogre ( 7284 m ) pada 1975 ( dengan Doug Scott ),
Mount Kongur ( 7700 m ) pada 1980 ( dengan Peter Boardman, Rouse and Tasker ),
Puncak Barat Shivling ( 6501m )
Gangotri pada 1983 ( dengan Jim Fotheringham ),
Puncak Barat Menlungtse ( 7023 m ) pada 1988,
Rangrik Rang ( 6553 m ) di Kinnaur Himalaya, bagian Utara India,
Drangnag-Ri ( 6801 m )
Rolwaling Himal dan Turquoise Flower ( 6650m ) pada 1994,
Danga II ( 6190m )
Nepal Timur ( dengan puteranya Daniel, saudaranya Gerald dan ponakannya, James, 2000 ),
3 puncak perawan pada Expedition to South Greenland tahun 2000,
Pimu Peak ( 5490m ) tahun 2004.

Untuk hal ini, ia mengajukan alasannya; "Ada semacam ketertarikan khusus pada puncak perawan; pengetahuan bahwa tidak ada orang yang pernah menginjakkan kaki disitu sebelumnya atau menikmati kenyataan pemandangan 360 derajat dari puncak. Terdapat juga maksud yang sederhana; mencapai puncak yang memiliki kekuatan di dalam dirinya."


Bonington juga tercatat sebagai salah satu organisator pendakian terbaik dalam sejarah pendakian gunung. Ia memimpin beberapa pendakian seperti :

Annapurna ( sisi selatan ) pada 1970,
Mount Everest ( sisi Barat Daya ) pada 1972 dan 1975,
K2 ( Sisi Barat ) 1978,
Mount Kongur 1980,
Mount Everest ( Punggungan Timur Laut ) 1982,
Menlungtse 1987 ( gabungan Norwegia - Inggris ),
Menlungtse 1988 ( gabungan Inggris - Amerika - Tibet ),
Climbing Leader, 'Greenland The Hard Way' Expedition tahun 1988,
Punggungan Barat Panch Chuli II ( 6904m ) pada 1992 ( Gabungan Leader dengan Harish Kapadia ),
Rangrik Rang ( 6553m ) pada 1994 ( Gabungan Leader dengan Harish Kapadia )
Sepu Kangri ( 6800 m ) juga pada 1994 ( Gabungan Inggris - Tibet ).

Pendakian yang dianggap paling impresif dari seorang Bonington adalah ketika ia mengorganisir upaya ke puncak Annapurna melalui sisi selatan pada 1972 dan sisi Barat daya Everest pada 1975. Keduanya sangat curam dan secara teknis memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Pada saat itu, belum ada dinding raksasa Himalaya yang pernah didaki orang.

Dan menuju dinding besar setinggi 12.000 kaki berarti melangkah ke ketidaktahuan dimana di dalamnya terdapat bentangan batu dan salju di atas ketinggian 24.000 kaki dpl. Namun dengan pemilihan anggota tim, pengaturan peralatan, penentuan strategi pendakian dan kerjasama tim yang baik, sisi selatan Annapurna akhirnya bisa diatasi.

Dougal Haston dan Don Whillans berhasil mencapai puncak Annapurna pada 27 Mei 1970. Sementara sisi Barat Daya Everest sukses dilewati pada 1975 setelah sempat mengalami kegagalan pada 1972 akibat cuaca buruk. Doug Scott dan Dougal Haston mencapai puncak pada 24 September dalam sebuah pendakian yang digambarkan sebagai "The Hard Way".

Meski berhasil mengorganisir beberapa pendakian, puncak tertinggi di dunia, secara pribadi Mount Everest baru bisa diraih Bonington pada 1985 ketika usianya sudah mencapai 50 tahun! Kesuksesan di sisi Barat Daya Everest sebagai pimpinan 10 tahun sebelumnya, bukan menjadi penghalang bagi dirinya untuk menjadi "hanya" sebagai kepala staff logistik dan penasehat teknik pada Norwegian Everest Ekspedition.

Bonington justru banyak belajar dari pendakiannya kali ini. Delapan belas pendaki berhasil mencapai puncak Everest dari tiga arah yang berbeda. Menurutnya, hal ini bisa terjadi bukan cuma karena perencanaan dan pengorganisasian yang sangat baik, melainkan juga banyak dipengaruhi oleh keinginan setiap anggota tim ekspedisi untuk saling membantu dan bekerjasama sebagai sebuah tim. source

Danau Gunung Tujuh


Puncak  Gunung Kerinci yang merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Indonesia. Gunung ini terlihat begitu dekat dari salah satu punggung Gunung Tujuh. Gunung Kerinci yang menjulang ke angkasa seakan terlihat sendirian. Kawasan Gunung Tujuh dipisahkan oleh jalan raya yang menghubungkan Sungai Penuh, ibu kota Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dengan Muara Labuh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.


Bagi  para pendaki, Gunung Kerinci dengan puncaknya di ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut ( dpl ) memang seakan selalu menjadi tantangan. Akan tetapi, bagi pendaki amatiran yang sekadar ingin merasakan lelahnya berjalan menanjak melalui jalan setapak, kawasan Gunung Tujuh bisa mengobati impian menaklukkan puncak gunung tersebut.

Kondisi alamnya yang masih perawan dan asri, menjadikan Danau Gunung Tujuh sebagai objek wisata paling favorit di Kabupaten Kerinci dan sekitarnya. Sementara, letaknya yang berada pada ketinggian 1.996 meter dpl, menjadikan danau ini sebagai danau tertinggi di Asia Tenggara. Bagi para pendaki, melakukan pendakian ke Gunung Kerinci dengan puncaknya di ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut ( dpl ) mcmang melelahkan, tapi sekaligus juga menjadi tantangan.

Meski terlihat begitu dekat dari salah satu punggung Gunung Tujuh, jalan menuju puncak Gunung Kerinci lumayan berliku. Kemiringan jalur pendakian berupa jalan setapak yang menanjak yang mencapai 50-60 derajat sangat menguras stamina.

Namun, rasa lelah itu seakan lenyap ketika tiba di lokasi tujuan wisata yang ada di kawasan Gunung Tujuh, yakni sebuah danau yang disebut Danau Gunung Tujuh. Selain alamnya yang asri, panorama di danau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat ( TNKS ) ini demikian indah.

Selain melakukan pendakian, tidak sedikit pengunjung yang datang hanya untuk menikmati suasana alami di kaki gunung. Setiap akhir pekan, banyak pendaki amatiran ( baca: wisatawan ) yang naik ke Danau Gunung Tujuh. Mereka tidak hanya berasal dari Kerinci, melainkan juga wisatawan yang datang dari luar daerah. Tidak heran jika setiap hari Sabtu - Minggu, banyak tenda - tenda kemah yang berdiri di sekitar pos jaga. Obyek wisata ini bcrjarak lebih kurang 51 km dari Sungai Penuh, ibukota Kabupaten Kerinci. Tertinggi Di Asia Tenggara

Secara ilmiah, Danau Gunung Tujuh merupakan danau vulkanik yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau. Memiliki ukuran panjang sekitar 4,5 km dan lebar 3 km, danau yang berada di ketinggian 1.996 meter dpl ini merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Bagi pencinta wisata alam sekaligus petualangan, Danau Gunung Tujuh merupakan objek wisata favorit di Jambi dan sekitarnya.

Selain panorama alamnya yang indah, danau ini dikelilingi oleh enam gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo dengan ketinggian 2.525 meter dpl, Gunung Hulu Sangir ( 2.330 meter dpl ), Gunung Mandura Besi ( 2.418 meter dpl ), Gunung Selasih ( 2.230 meter dpl ), Gunung Jar Panggang ( 2.469 meter dpl ), dan Gunung Tujuh ( 2.732 meter dpl ) yang puncaknya paling tinggi.

Bukan cuma itu, sebagai kawasan yang menjadi salah satu sentra keanekaragaman hayati, Danau Gunung Tujuh juga sering dikunjungi para pencinta dan peneliti flora dan fauna. Di kawasan ini hidup berbagai jenis satwa khas TNKS seperti harimau sumatera ( Panthers tigru surnatrensis ), siamang, beruang madu, babi hutan, tapir, bermacam burung, dan berbagai jenis kupu - kupu. Tumbuhan yang hidup di kawasan ini pun beragam dengan primadona berbagai jenis anggrek alam dan bunga kantong semar.

Panorama alam menawan lain yang dapat dinikmati di kawasan ini adalah Air Terjun Gunung Tujuh. Air terjun dengan ketinggian puluhan meter itu bersumber dari Danau Gunung Tujuh. Pengunjung yang ingin mencapai air terjun ini bisa melalui jalur setapak tidak jauh dari bekas wisma peristirahatan di dekat pos jaga di kaki gunung.

Ada beberapa alternatif jalur pendakian ke Danau Gunung Tujuh. Salah satunya dan paling banyak ditempuh adalah melalui gerbang Pos TNKS di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Di desa berketinggian 1.600 meter dpl itu udara terasa dingin, terlebih lagi karena angin selalu bertiup kencang. Sehingga pengunjung disarankan untuk membawa jaket atau baju tebal.

Sebagaimana daerah pegunungan pada umumnya, pada malam hari, suhu udara di sekitar pos pendakian ini terasa sangat dingin. Tanpa mengenakan jaket tebal, kaus kaki, dan selimut tebal, jangan harap bisa tidur nyenyak karena dinginnya udara. Angin dingin yang bertiup terasa menusuk tulang. Bagi pengunjung yang hendak mendaki ke Danau Gunung Tujuh lebih pagi, bisa memanfaatkan rumah penduduk di sekitar pos.

Rumah tinggal yang sekaligus menjadi homestay tersebut bisa dipesan sebelum hari kedatangan, atau pada hari kedatangan itu juga jika kebetulan tidak ada pengunjung yang menginap. Selain di sekitar pos, pengunjung pula bisa menginap di beberapa homestay di Desa Kersik Tuo yang terletak beberapa kilometer dari Pelompek.

Dengan segala keindahan alam yang disimpannya, kawasan Danau Gunung Tujuh terlihat masih utuh dan lestari, karena belum terusik tangan - tangan jahil. Kondisi ini tak lepas dari pesan pihak Balai TNKS yang senantiasa mengingatkan pengunjung agar tidak mengambil, menangkap, atau membawa keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini.

Hingga saat ini kawasan Gunung Tujuh adalah daerah yang masih utuh dan lestari. Pihak Balai TNKS selalu mengingatkan pengunjung agar tidak mengambil, menangkap, atau membawa keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini. Kepada pengunjung selalu diingatkan pula untuk tidak mencorat - coret atau menorehkan apa pun di kawasan Gunung Tujuh. Mereka juga diingatkan untuk tidak sembarangan membuang sampah.


Tidak bisa dimungkiri, Danau Gunung Tujuh dan kawasan alam di sekitarnya merupakan salah satu primadona wisata di Kabupaten Kerinci. Dari begitu banyak lokasi wisata alam yang indah di kabupaten itu, Danau Gunung Tujuh menjadi lebih menonjol karena keunikan dan keindahan yang dimilikinya.

Keberadaan Danau Gunung Tujuh yang berdekatan langsung dengan Gunung Kerinci, seakan menjadi penyeimbang gunung aktif tertinggi di Indonesia itu. Beberapa tahun terakhir ini Gunung kerinci bahkan terlihat begitu jinak, sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa semua itu bisa terjadi karena adanya Danau Gunung Tujuh yang menjadi mesin pendingin dari Gunung Kerinci.

Rahasia Reinhold Messner


blog-indonesia.com Reinhold Messner, pendaki gunung legendaris selama kurang lebih 35 tahun terus di bayangi tuduhan telah mencelakakan adiknya di Nanga Parbat. Walaupun begitu, lambat laun kebenaran terkuak. Berikut ini kisah tentang penemuan adik dari Reinhold Messner, yakni Gunther Messner yang meninggal di Nanga Parbat di Himalaya. Kisah yang heroik dari seorang petualang berdedikasi seperti Reinhold dan Gunther Messner.


Mereka menemukan sisa - sisa tubuh lelaki muda itu di tengah - tengah salju. Tepatnya, hampir separuh jalan menuju Nanga Parbat, puncak tertinggi kesembilan di dunia. Pakaiannya masih melekat. Semua, termasuk jaket antiangin dan sepatu mengidentifikasikan lelaki itu. Gunther Messner.

Gunther raib 35 tahun lalu. Ia dan abangnya, Reinhold Messner bersama - sama mengikuti ekspedisi pertama mereka di Himalaya pada 1970. Sejak saat itu, Reinhold yang kemudian menjadi pendaki gunung ternama hidup di bayang - bayangi tudingan bahwa ia bertanggung jawab atas kematian sang adik. Dua pekan silam, begitu terdengar kabar penemuan jenazah di Nanga Parbat, Reinhold langsung bertolak dari Italia ke Pakistan. Ia mengidentifikasi jasad yang ditemukan seorang pendaki lokal sebulan silam itu. ”Messner menelepon saya hari ini untuk menegaskan bahwa ia mengenali mayat adiknya, yang hilang setelah diterpa longsoran salju Gunung Pembunuh,” kata Najeeb Khan, sahabat Reinhold di Pakistan. Reinhold mengenali tubuh beku adiknya lewat sepatu dan jaketnya.

Penemuan tubuh Gunther tampaknya bisa menyelesaikan salah satu misteri dunia pendakian. Saat ditemukan, posisi tubuh Gunther cocok dengan pengakuan Reinhold bahwa ia tak meninggalkan Gunther di lereng. Menurut Reinhold, adiknya tewas tersapu longsoran salju.

Messner bersaudara pada 1970 berniat menaklukkan Nanga Parbat, sebuah ”puncak terlarang” dengan ketinggian 8.125 m di atas permukaan laut di rantai Karakoram di ujung barat Himalaya. Puncak ini juga dikenal sebagai the Killer Mountain ( Gunung Pembunuh ). Dua bersaudara ini tak pernah mencapai puncak Nanga Parbat. Mereka berdua ada di batas kelelahan, kehabisan bekal makanan dan air. Di ketinggian itu, Gunther pun terkena halusinasi.

Pada titik inilah kontroversi berawal. Reinhold, yang kehilangan tujuh jari kaki dan beberapa jari tangan akibat frostbite selama pendakian mengatakan, mereka berdua menuruni sisi Diamar, bagian barat gunung ketika adiknya hilang. Menurut Reinhold, ia sudah berjalan di depan sementara Gunther, dalam keadaan lemah dan tercecer di belakang, hampir pasti tersapu longsoran salju yang besar itu.

Dua pendaki lainnya, Max von Kienlin dan Hans Saler yang ambil bagian pada pendakian itu berkata lain. Meski tak mencapai puncak, mereka memberi kesaksian yang berbeda. Dalam buku diterbitkan di Jerman, mereka menyatakan, Reinhold Messner telah menyuruh adiknya menuruni sisi Rupal, bagian curam yang berbahaya di gunung itu. Padahal kedua kakak beradik itu, kata mereka, hampir mati saat mendakinya. Reinhold, kata mereka juga, dengan teganya meninggalkan sang adik yang dalam keadaan sakit itu dengan memaksanya turun. Menurut Von Kienlin dan Saler, Reinhold sendiri memilih turun melewati rute berbeda yang baru di sisi barat Diamar karena ia ingin menjadi orang pertama yang turun lewat jalur ini. ”Akibatnya,” tulis mereka, ”Messner mengorbankan adiknya untuk ambisinya sendiri.

Tahun - tahun berikutnya, Reinhold dikenal sebagai selebriti kalangan pendaki gunung. Ia orang pertama yang secara solo mendaki puncak Everest pada 1980 tanpa bantuan oksigen. Dan, ia jugalah yang pertama mendaki 14 puncak tertinggi di dunia tanpa cadangan oksigen. Tapi, tudingan mengorbankan nyawa sang adik terus membayang - bayanginya. Bayang - bayang buruk itu tak hilang meski Reinhold selalu menyangkal telah melakukan kesalahan bahkan telah melancarkan tindakan hukum terhadap Von Kienlin dan Saler dan penerbit mereka sekalipun.

Sampai - sampai Reinhold mengajukan fakta yang mungkin membuat dua pendaki itu ”sirik” padanya. Pertama, ia mempunyai affair dan kemudian menikahi istri Von Kienlin, Ursula pada 1971, dan ia menjadi terkenal dan kaya. Masalahnya, perkawinan itu tak berlangsung lama. Von Kienlin dan Saler membantah mereka dibakar rasa cemburu atau kebencian. Kata mereka, hanya ingin mengungkapkan apa yang mereka lihat sebagai kebenaran.


TERUS MENCARI

Berjenggot lebat, penuh semangat, pada usia 60 tahun Reinhold masih fit. Ia salah satu dari beberapa pendaki yang mendapat keberuntungan dari olah raga ini. Reinhold Messner sering disebut pendaki terbesar dalam sejarah. Terkenal flamboyan dan suka memaksakan diri, ia kini hidup berkelebihan di sebuah istana yang direstorasi di Tyrol selatan, di perbatasan Italia dengan Austria. Namun, hilangnya sang adik membuat Reinhold menderita. ”Aku tak bisa makan atau minum apa pun berhari - hari, aku mengalami halusinasi, jari kakiku menghitam akibat frostbite dan adikku hilang ditelan longsor,” kenangnya tahun yang lalu.

Karena sebagian besar jari kakinya diamputasi Reinhold terpaksa menyerah dari aktivitas rock climbing. Ia beralih menaklukkan gunung - gunung besar yang lebih diperlukan stamina ketimbang keterampilan. Reinhold dan Gunther adalah anak Messner, seorang pengagum Nazi yang mendukung kesepakatan antara Hitler dan Mussolini. Suatu kesepakatan yang memungkinkan orang - orang Tyrol bisa memilih tetap sebagai orang Italia atau pindah ke Jerman Raya. Messner senior juga seorang pendaki gunung pada 1930. Ia naik gunung lagi pada 1950 - an bersama anak - anaknya yang masih kecil.

Reinhold yang bertentangan dengan pandangan Nazi ayahnya, lahir pada 1944. Gunther, dua tahun lebih muda. Tapi, ayah mereka melihat mendaki hanya sebagai kegiatan waktu luang, menjadi waspada pada semangat mereka. ”Saat ayahku menyadari ini akan menjadi hidupku, ia berusaha menghentikan, tapi sudah terlalu terlambat,” kata Reinhold. Dua anak itu melakukan pendakian terberat di Dolomites dan akhir 1960 sudah menjadi pendaki terbaik dari generasi mereka. Keberhasilan mereka cukup bagi Reinhold untuk mendapatkan tempat pada ekspedisi Nanga Parbat, sebuah gunung di masa perang menjadi yang obsesi para pendaki Jerman dan Austria.

Ayahku meminta Gunther untuk menemani saya,” kata Messner pada 2003. ”Lalu, Gunther tewas dalam longsoran es saat kami turun dari puncak dan ayahku menyalahkanku karena tak membawanya pulang. Sulit baginya untuk memahami bagaimana keadaannya di atas sana.”

Reinhold kembali ke Nanga Parbat setahun setelah kematian adiknya untuk mencari tubuhnya. Upaya itu tanpa hasil. Ia kembali lagi pada tahun 2000 bersama adiknya, Hubert, untuk membuat sebuah dokumen tentang perjalanan itu. Ia juga menulis sebuah buku yang digambarkannya sebagai tekanan yang dirasakannya sejak itu. ”Aku akan mencari adikku, meskipun harus memakan 20 tahun,” katanya suatu ketika. Laporan dari Italia dan Austria menyebutkan, tubuh Gunther ditandai oleh para pendaki beberapa pekan lalu. Tapi, mayat beku itu dibiarkan pada tempatnya sampai sang kakak, Reinhold yang kini sudah lewat tengah baya datang untuk mengidentifikasinya.

Posisi tempat tubuh Gunther ditemukan, pada ketinggian 4.400 meter di sisi barat Diamar. Bukan sisi kawasan Rupal. Temuan ini tampaknya menyingkirkan kecurigaan terhadap Reinhold. Reinhold mencapai lokasi terpencil di kawasan Pakistan barat itu Rabu lalu dan mengidentifikasi adiknya. Terkubur di salju dan es selama 35 tahun, bagian tubuh manusia mana pun harus diidentifikasi dulu melalui uji DNA. Tapi, anggota keluarga Messner memastikan temuan itu. Mereka mengesampingkan tes DNA.

Hubert Messner, saudara Gunther yang lain, yang bekerja sebagai seorang dokter anak di Bolzano, Italia merasa amat lega. Ia mengungkap harapan keluarga Messner untuk membawa pulang jasad Gunther ke kampung halamannya di Funes, Italia, untuk menghuni peristirahatan terakhirnya.

Reinhold Messner


Reinhold Messner

Reinhold Messner pad Mei 2004
Lahir 17 September 1944 (umur 67)
Brixen (Bressanone), Italia
Pekerjaan Pendaki Gunung
Situs web
www.reinhold-messner.de
Reinhold Messner (lahir di Brixen, Trentino-Alto Aldige, 17 September 1944; umur 67 tahun) adalah pendaki gunung berkebangsaan Italia yang tercatat sebagai orang yang pertama kali melakukan pendakian solo tanpa suplemen oksigen di Gunung Everest (1980)[1]. Ia juga merupakan orang pertama yang mendaki empat belas puncak "eight-thousanders'", puncak dengan ketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut.


Biografi

Lahir di Brixen (Bressanone), Tirol Selatan (Italia) dan penutur asli bahasa Jerman, Messner memulai karier memanjat di Pegunungan Alpen. Pendakian utamanya di Himalaya pada tahun 1970, Nanga Parbat, berubah menjadi keberhasilan tragis. IA dan saudaranya Günther Messner mencapai puncak, namun Günther meninggal 2 hari kemudian saat turun. Reinhold kehilangan 7 jari kakinya akibat udara dingin selama pendakian.
Pada tahun 1980, Messner adalah orang pertama yang mendaki Gunung Everest sendirian tanpa oksigen pendukung. (Messner telah melakukan hal ini lebih awal sebagai bagian tim 2 orang dengan Peter Habeler pada tahun 1978). Ia juga orang pertama yang memanjati keempat belas "eight-thousander" (puncak-puncak setinggi lebih dari 8.000 m dpl, kadang-kadang disebut sebagai "Mahkota Himalaya"), memenangkan duel dengan Jerzy Kukuczka. Ia juga mengadakan pendakian solo ke Nanga Parbat yang sulit secara teknis. Messner telah melintasi Antarctica naik ski dengan Arved Fuchs. Ia telah menulis sejumlah buku tentang pengalamannya, banyak yang diterjemahkan ke bahasa lain.
Pendakian solonya ke Everest, ketika tiada pendaki lain di pegunungan, dianggap sebagai prestasi tunggal yang tiada duanya karena pegunungan ini sekarang sering didaki dalam berbagai kelompok, dan sering terganggu dengan pendaki lain yang juga naik serentak.
Messner sekarang menjalankan bisnis aneka rupa terkait dengan kecakapan panjat gunungnya. Antara tahun 1999-2004, ia memegang jabatan politis sebagai Anggota Parlemen Eropa untuk Partai Hijau Italia (Federazione dei Verdi).
Pada tahun 2004 ia berjalan 2000 kilometer melintasi Gurun Gobi.

Empat belas puncak

Home » Misteri Dunia » Mengintip Legenda Ikan Dewa di Kaki Gunung Ciremai Mengintip Legenda Ikan Dewa di Kaki Gunung Ciremai Posted by ADMIN on 11.7.11 Ikadanews - Kolam Keramat Cigugur terletak sekitar tiga kilometer dari ibukota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, ”balong” itu masuk wilayah Kelurahan Cigugur. Menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat setempat, sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu acap disebut dengan nama Padara. Istilah ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat, yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu. Konon Ki Gede Padara lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Menurut perkiraan, tokoh yang menjadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir pada abad ke-12 atau ke-13. Pada masa itu, beberapa tokoh yang sezaman dengannya sudah mulai bermunculan, di antaranya Pangeran Pucuk Umun dari Kerajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kerajaan Kuningan. Berdasarkan garis keturunan, keempat tokoh tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Namun dalam hal pemerintahan, kepercayaan, dan ajaran yang dianutnya, mereka memiliki perbedaan. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning menganut paham aliran ajaran agama Hindu. Sedangkan Ki Gede Padara tidak menganut salah satu ajaran agama. Pada abad ke-14 di Cirebon lahir sebuah perguruan yang beraliran dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tokoh yang mendirikan perguruan tersebut ialah Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati pun memiliki peran yang besar dalam pengembangan perguruan Islam di tanah Caruban itu. Sebagai kuwu pertama di Dusun Cigugur diangkatlah Ki Gede Alang-Alang. Hingga wafatnya, beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Agung. Di usia tuanyan, Ki Gede Padara punya keinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, yang kemudian menghadap kepada Syech Syarif Hidayatullah. Atas laporan itu, Syech Syarif Hidayatullah pun langsung melakukan pertemuan dengan Padara. Syech Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara. Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syech Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syaratnya. Syarat yang langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna. Setelah Ki Gede Padara menghilang, Syech Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudhlu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, dia pun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta. Namun, masyarakat setempat tidak tahu menahu kapan persisnya kolam tersebut dibangun. Satu hal pasti, kolam tersebut dianggap keramat. Apalagi setelah kolam ”ditanami” ikan kancra bodas. Pengeramatan tersebut juga dilakukan oleh masyarakat terhadap ikan sejenis yang hidup di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, dan Pasawahan. Maksud pengkeramatan terhadap ikan langka tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga dan melestarikannya dari kepunahan akibat ulah manusia. Ada hal aneh yang sampai kini masih terjadi atas ikan-ikan itu: Jumlahnya dari tahun ke tahun tak pernah bertambah atau pun berkurang. Seolah ikan-ikan tersebut tidak pernah mati atau menurunkan generasi dan keturunan. Komunitas ikan kancra bodas ini tak dapat ditemui selain di kolam-kolam keramat yang ada di Kabupaten Kuningan. Keanehan lainnya terlihat dari polah tingkah laku mereka yang sangat akrab dengan manusia. Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan. Wallahhualam.

Harap Cantumkan Sumber web Ini Jika Anda Copas: http://www.ikadanewsonline.com/2011/07/mengintip-legenda-ikan-dewa-di-kaki.html
Copyright www.ikadanewsonline.com Under Common Share Alike Atribution
Home » Misteri Dunia » Mengintip Legenda Ikan Dewa di Kaki Gunung Ciremai Mengintip Legenda Ikan Dewa di Kaki Gunung Ciremai Posted by ADMIN on 11.7.11 Ikadanews - Kolam Keramat Cigugur terletak sekitar tiga kilometer dari ibukota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, ”balong” itu masuk wilayah Kelurahan Cigugur. Menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat setempat, sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu acap disebut dengan nama Padara. Istilah ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat, yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu. Konon Ki Gede Padara lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Menurut perkiraan, tokoh yang menjadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir pada abad ke-12 atau ke-13. Pada masa itu, beberapa tokoh yang sezaman dengannya sudah mulai bermunculan, di antaranya Pangeran Pucuk Umun dari Kerajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kerajaan Kuningan. Berdasarkan garis keturunan, keempat tokoh tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Namun dalam hal pemerintahan, kepercayaan, dan ajaran yang dianutnya, mereka memiliki perbedaan. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning menganut paham aliran ajaran agama Hindu. Sedangkan Ki Gede Padara tidak menganut salah satu ajaran agama. Pada abad ke-14 di Cirebon lahir sebuah perguruan yang beraliran dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tokoh yang mendirikan perguruan tersebut ialah Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati pun memiliki peran yang besar dalam pengembangan perguruan Islam di tanah Caruban itu. Sebagai kuwu pertama di Dusun Cigugur diangkatlah Ki Gede Alang-Alang. Hingga wafatnya, beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Agung. Di usia tuanyan, Ki Gede Padara punya keinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, yang kemudian menghadap kepada Syech Syarif Hidayatullah. Atas laporan itu, Syech Syarif Hidayatullah pun langsung melakukan pertemuan dengan Padara. Syech Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara. Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syech Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syaratnya. Syarat yang langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna. Setelah Ki Gede Padara menghilang, Syech Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudhlu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, dia pun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta. Namun, masyarakat setempat tidak tahu menahu kapan persisnya kolam tersebut dibangun. Satu hal pasti, kolam tersebut dianggap keramat. Apalagi setelah kolam ”ditanami” ikan kancra bodas. Pengeramatan tersebut juga dilakukan oleh masyarakat terhadap ikan sejenis yang hidup di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, dan Pasawahan. Maksud pengkeramatan terhadap ikan langka tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga dan melestarikannya dari kepunahan akibat ulah manusia. Ada hal aneh yang sampai kini masih terjadi atas ikan-ikan itu: Jumlahnya dari tahun ke tahun tak pernah bertambah atau pun berkurang. Seolah ikan-ikan tersebut tidak pernah mati atau menurunkan generasi dan keturunan. Komunitas ikan kancra bodas ini tak dapat ditemui selain di kolam-kolam keramat yang ada di Kabupaten Kuningan. Keanehan lainnya terlihat dari polah tingkah laku mereka yang sangat akrab dengan manusia. Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan. Wallahhualam.

Harap Cantumkan Sumber web Ini Jika Anda Copas: http://www.ikadanewsonline.com/2011/07/mengintip-legenda-ikan-dewa-di-kaki.html
Copyright www.ikadanewsonline.com Under Common Share Alike Atribution

Dewa Gunung


Reinhold Messner pantas disebut salah satu dewa gunung. Petualang asal Italia ini telah menorehkan sejumlah rekor dalam kancah petualangan dunia. Messner tak pernah bisa diam, ia terus mencari tantangan baru dalam menjelajahi suatu daerah. Umur boleh bertambah, namun semangat berpetualang tak pernah padam.Dunia pendakian gunung salju seakan terhenyak. Sejumlah pendaki pun mencibir. Mereka bilang, mana mungkin itu dapat dilakukan. Komentar miring lainnya: itu sama saja dengan tindakan bunuh diri.
Meski dianggap gila, Messner jalan terus. Ia tetap memegang prinsip: jalani dulu tanpa harus banyak bicara. Cibiran dan cemohaan itu terlontar gara-gara Messner mengutarakan keinginan untuk mendaki gunung di kawasan Himalaya dengan gaya pendakian tradisional di kawasan Alpen, Eropa. Prinsipnya, dalam pendakian ini seorang pendaki hanya berbekal peralatan secukupnya dan melakukan pendakian ala kebut gunung. Persiapan fisik dan mental pendaki sudah dilalukan sejak jauh hari. Begitu sampai di kaki gunung waktu aklimatisasi penyesuaian diri dengan kondisi sekitar – juga tak lama.
Hasilnya, waktu pendakian lebih singkat dan tak ada persiapan rute yang final. Paling penting: haram  memakai tabung oksigen. Selanjutnya, gaya ini disebut gaya alpina.Sebelum gaya ini populer, para pendaki dunia memakai gaya pendakian Himalaya. Mereka dibekali dengan berton-ton peralatan, logistik dan punya waktu ekspedisi yang panjang. Tentu saja, semua kebutuhan tadi dibawa porter yang jumlahnya dapat mencapai ratusan orang. Saat tiba di kemah induk (base camp), tim pendaki melakukan proses aklimatisasi.
Beres semua itu, lalu mulai berjalan naik untuk membuka Kemah I dan seterusnya. Untuk menerapkan gaya alpina di Himalaya, Messner menunjuk puncak gunung Gasherbrum I yang dikenal sebagai Hidden Peak. Gunung ini punya titik tertinggi 8.068 meter dari permukaan laut (mdpl) dan berlokasi di wilayah Pakistan dan Cina. Pada 1975, lelaki yang sempat kuliah di Universitas Padua, Italia mengajak Peter Habeler untuk bergabung dalam ekspedisi ini.
Pada 8 Agustus 1975, Messner dan Habeler memulai pendakian. Keduanya tak bawa tali, tabung oksigen dan hanya berbekal alat panjat pribadi. Hari kedua, mereka tiba di bawah dinding es curam setinggi 1.000 meter. Kemah berikut berdiri setelah lewat dinding tersebut. Messner dan Habeler pun melakukan pemanjatan kilat. Usai pemanjatan gila-gilaan itu, keduanya terserang rasa lelah yang hebat. Saking capeknya, memasang tenda pun terasa sangat sulit. Apalagi acara makan tak ada dalam agenda pendakian.
Hari berikutnya, mereka meninggalkan perlatan dalam tenda. Penyerangan puncak (summit attack) dilakukan dengan hanya membawa kapak es (ice axe), crampoons, kamera dan peralatan medis.Pada hari yang sama, kedua pendaki handal ini meraih puncak. Peter Habeler tiba lebih dulu. Messner menyusul beberapa menit kemudian. Seperti lazimnya pendaki, Messner mengabadikan Habeler saat berada di puncak. Asyiknya, cuaca amat cerah dan mereka pun berpelukan.
Wow! Apa yang didapat ekspedisi Messner dan Habeler itu? Ini merupakan sukses kedua dalam usaha mencapai puncak Gasherbrum I. Namun, yang pertama dengan gaya alpina murni dalam pendakian gunung di atas 8.000 mdpl. Bagi Messner, pada saat itu, tercatat sebagai orang pertama yang sudah menjejak puncak di atas 8.000 mdpl: Nanga Parbat (8.125 mdpl), Manaslu (8.156 mdpl) dan Gasherbrum I.Begitu pendakian beres, Walter Bonati mengucapkan selamat via telegram:
Pendakian alpina yang hebat sekali. Anda berdua adalah satu-satunya orang dalam tahun ini yang berhasil menekan batas maksimal petualangan. Terus BerpetualangMessner tak pernah puas. Ia tetap menorehkan rekor lainnya dalam dunia pendakian. Sebut saja, orang pertama yang sukses menyapu bersih 14 puncak gunung di atas 8.000 meter, orang ketiga yang meraih gelar œpendaki tujuh puncak dunia, pendaki pertama yang melakukan pendakian solo dan tanpa doping oksigen untuk meraih puncak Everest dan lainnya.
Pria yang meyakini keberadaan yeti sejenis makhluk yang menyerupai beruang di Tibet tak hanya dikenal sebagai pendaki gunung. Pada 1990, ia sukses melintasi benua Antartika dengan jalan kaki selama 92 hari via the South Pole sejauh 2.800 km. Dau tahun berikut, melintasi gurun Takla Maran, lalu ekspedisi ke Greenland sejauh 2.200 km. Di balik sukses tentu ada pula cerita sedih.
Kesedihan pertama Messner ketika berekspedisi ke Nanga Parbat, Pakistan. Di situ, petualang juga gape motret dan menulis buku itu harus menerima kenyataan, sang adik Gunther Messner meninggal dunia. Gunther tewas lantaran kejatuhan salju longsor (avalanche) di dekat kemah induk. Padahal, keduanya sudah menejak puncak via dinding Rupal (Rupal Face). Untuk melupakan kejadian itu, Messner butuh waktu bertahun-tahun.Tragedi kedua terjadi di Manaslu (8163 mdpl), Nepal pada 1972. Messner dituduh menjadi penyebab hilangnya dua rekan pendaki dalam tim ekspedisi yang dipimpin Wolfgang Nairz.
Franz Jager hilang dalam perjalanan turun bersama Messner. Raga Jager tak juga ditemukan setelah hilang dihantam badai salju. Dalam usaha pencarian itu, anggota ekspedisi lainnya: Andi Schlick ikut menghilang. Messener dan Horst Frankhauser sudah mencari, namun hasilnya nihil. Maklum saja, kondisi cuaca pada saat itu betul-betul buruk.Usai pendakian, sejumlah tulisan menyalahkan Messner.
Sialnya, tulisan itu dibuat oleh orang-orang yang belum pernah berekspedisi ke gunung 8.000 meter. Seluruh anggota tim mendukung Messner untuk menulis cerita yang sebenarnya. Namun, ia kadung trauma. Sejak itu, ia berjanji tak lagi ikut dalam ekspedisi berjumlah besar. Messner juga sempat gagal menaklukan Lhotse (8516 mdpl), Nepal/Cina pada 1975. Lalu gagal pada pendakian ke Makalu (8463 mdpl), Nepal/Cina tahun 1986. Tapi masih dalam tahun yang sama, kedua hutang tadi langsung dibayar lunas.